Waaa.... coba-coba buka blog sendiri, merasa asing juga karena udah lama
ga dibuka. Udah lama banget yah ga nulis? ya Allah... kesibukanku telah
mematikan keinginan menulisku... Meskipun sehari-hari pekerjaanku ga
lepas dari menulis, tapi laen ama nulis di blog...
Sebenernya tulisan sekarang bukan buat ngutarain alesan why i didn`t write anything in my blog?. Ada sesuatu yang ingin aku abadikan... yaitu... mengenai ???.
Alhamdulillaah...,
Selamat atas semua. Terus semangat dan terus berjuang!
Puji serta syukur kehadirat Allah SWT, atas segala limpahan rahmat dan nikmat-Nya, pada hari ini kita masih diberikan kesempatan bertatap muka di blog ini dalam keadaan sehat wal’afiat.
Mengenai Saya
Selasa, 27 Desember 2011
Sabtu, 20 Agustus 2011
Air Terjun Lembah Kahung
Lembah Kahung Waterfall
Dengan sebuah mobil berangkat di pagi dari kota Martapura menuju sebuah danau buatan Riam Kanan, danau buatan ? ……….. karena danau itu adalah up streamnya bendungan Ir.Pangeran M. Noor sebagai salah satu PLTA di Kalimantan Selatan, waktu tempuh sampai ke dermaga Tiwingan di Riam Kanan (nama danau bendungan Riam Kanan) kira kira 30 menit. Sesampai di dermaga telah menuggu beberapa buah kelotok ( perahu bermesin) yang siap untuk disewa Rp. 250.000,- pulang pergi.
Dari dermaga Tiwingan dengan kecepatan sedang kelotok meluncur di tengah danau menyusuri alur menuju dermaga Desa Belangian yang penduduknya berjumlah 90 KK, dimana mata pencaharian pendudukan setempat adalah bertani, mencari ikan, memelihara kerbau dan sapi, tapi penduduknya sangat menjaga kelestarian hutan dibelakang desanya karena keberadaan hutan adalah bagian keberadaan kehidupan mereka sebagai sumber mengalirnya air sungai yang melintasi desa mereka dan juga tempat mereka mencari ikan untuk lauk makan sehari hari. Cukup lama, sekitar 2 jam baru sampai ke dermaga desa Tiwingan.
Cukup dengan berjalan kaki selama 15 menit sampailah ke desa Belangian, kalau hari masih pagi maka perjalanan dapat diteruskan menuju Lembah Kahung, tapi kalau sudah siang apalagi sore, profesional sugestion is . . . . . nginep aja di desa, lumayan menambah pendapatan masyarakat desa walaupun mereka tidak memasang tarif nginep atau supper n breakfast . . . . . esok paginya baru berangkat, tentunya setelah bebenah mandi pagi, menyiapkan ransum,dll . . . maklum diperjalanan nggak ada cafe yg buka !!! jangankan cafe, warung aja nggak ada . . . . namanya juga di hutan yeee !
Dari dermaga Tiwingan dengan kecepatan sedang kelotok meluncur di tengah danau menyusuri alur menuju dermaga Desa Belangian yang penduduknya berjumlah 90 KK, dimana mata pencaharian pendudukan setempat adalah bertani, mencari ikan, memelihara kerbau dan sapi, tapi penduduknya sangat menjaga kelestarian hutan dibelakang desanya karena keberadaan hutan adalah bagian keberadaan kehidupan mereka sebagai sumber mengalirnya air sungai yang melintasi desa mereka dan juga tempat mereka mencari ikan untuk lauk makan sehari hari. Cukup lama, sekitar 2 jam baru sampai ke dermaga desa Tiwingan.
Cukup dengan berjalan kaki selama 15 menit sampailah ke desa Belangian, kalau hari masih pagi maka perjalanan dapat diteruskan menuju Lembah Kahung, tapi kalau sudah siang apalagi sore, profesional sugestion is . . . . . nginep aja di desa, lumayan menambah pendapatan masyarakat desa walaupun mereka tidak memasang tarif nginep atau supper n breakfast . . . . . esok paginya baru berangkat, tentunya setelah bebenah mandi pagi, menyiapkan ransum,dll . . . maklum diperjalanan nggak ada cafe yg buka !!! jangankan cafe, warung aja nggak ada . . . . namanya juga di hutan yeee !
Dalam perjalanan menuju Lembah Kahung ada 4 shelter yang harus dilewati, lembah, ngarai, sungai besar dan sungai kecil, jurang, hutan perawan. . . . . memang betul betul perawan karena jarang dimasuki mahluk yang namanya manusia.
Dari ujung desa menuju shelter I, jalannya masih datar dengan semak belukar dikiri kanan jalan setapak yang permukaan tanahnya masih becek berair terlihat jejak jejak kaki manusia disamping jejak kaki kaki lainnya, ada jejak kerbau, babi hutan, tapi . . . jangan kuatir nggak ada jejak harimau !
Petualangan pertama yang ditemui adalah menyeberang sungai yang sedikit mengetarkan hati, bayangkan sungai yang harus dilewati memiliki lebar sekitar 32 meter dengan arus yang cukup deras … soo, harus super hati-hati klo nggak ingin hilang terbawa arus deras, mau nggak menyeberang . . . . ngggak sampai sampai ke lembah kahung.
Dari ujung desa menuju shelter I, jalannya masih datar dengan semak belukar dikiri kanan jalan setapak yang permukaan tanahnya masih becek berair terlihat jejak jejak kaki manusia disamping jejak kaki kaki lainnya, ada jejak kerbau, babi hutan, tapi . . . jangan kuatir nggak ada jejak harimau !
Petualangan pertama yang ditemui adalah menyeberang sungai yang sedikit mengetarkan hati, bayangkan sungai yang harus dilewati memiliki lebar sekitar 32 meter dengan arus yang cukup deras … soo, harus super hati-hati klo nggak ingin hilang terbawa arus deras, mau nggak menyeberang . . . . ngggak sampai sampai ke lembah kahung.
Setelah sampai diseberang, mulailah jalan mendaki dengan pemandangan kaki kaki bukit terjal menghijau kebun masyarakat tapi bukan kebun teh seperti di lembang jawa barat, melainkan kebun kacang tanah. Hasilnya kurang memuaskan, bukan karena kacangnya tidak berisi tapi banyak diserang hama dan hamanya juga besar . . . babi. Pernah sekali minta bantuan Perbakin, hasilnya lumayan, banyak babi yg mati, cuma bertahan setahun dua tahun, berikutnya banyak lagi babinya . .. maklum babi sekali beranak jumlahnya banyak !!! nggak ikut program KB kali ? ya ??
Tak terasa sudah 1,5 jam berjalan setelah melalui sekitar 4 bukit dan sebuah sungai besar serta 2 buah sungai kecil (mandin), sampailah di shelter kembar , beristirahat sejenak di shelter sambil menikmati mie instan yg dibawa !
Etape ke 2, kayak rally juga !!! . . . perjalanan masih diteruskan dengan semangat yang masih tinggi apalagi sudah rekondisi sekitar 15 sampai 20 menit, tujuan adalah shelter 3 (Muara kahung). Jalan masih menanjak dan mulai terjal, setelah 45 menit perjalanan mulailah detik detik mendebarkan, aroma daun dan kayu yang mulai membusuk terhembus oleh semilir angin yang merupakan khas aroma hutan tropis. Diawali dengan tumbuhan perdu kemudian udara semakin lembab dan aroma khas hutan semakin tajam . . . . sebagai tanda bahwa kita memasuki teritorial hutan lembah kahung. Berbagai macam pohon pohon tropis yang tumbuh dengan berbagai macam ukuran besar maupun tingginya, dimana apabila kita berada di bawahnya serasa apalah artinya diri kita di tengah raksasa hutan !
Waktu tempuh shelter 2 ke shelter 3 cukup lama juga, sekitar 1,15 menit , tidak terasa tapi cadangan air minum sisa separo dari yg dibawa ! Kembali istirahat sekitar 15 sampai 20 menit, dengan badan mulai terasa semakin berat walau sudah istirahat, tapi perjalanan ke shelter 4 masih menunggu. Antar shelter 3 dan shelter 5 tidak banyak berbeda dengan shelter sebelumnya, banyak pohon, tanaman merambat seperti rotan yang berduri dan jenis jenis anggrek hutan, keadaan semacam ini ditemui sampai shelter 5 dan air terjun lembah kahung, namun yang paling nggegirisi dari etape etape terahir menuju air terjun adalah pacat atau lintah (alimatak n atu-atu) yang dengan tenang tanpa perasaan menunggu mangsa yang tanpa sadar mendekatinya untuk menjadi donor darah. Jenisnya ada dua macam yg siap masuk lewat kaki tangan kita adalah lintah penghuni air yg gerakannya lembut halus tak terasa merayap di permukaan kulit, dan satunya lagi adalah jenis lintah yang bergeraknya sebat dan tepat serta meloncat dengan akurasi tinggi menancapkan moncongnya ke permukaan kulit gulu, bawah telinga maupun muka kita dengan tanpa diketahui dan tak terasa sama sekali sampai dia kenyang dengan darah yang diisapnya dan akhirnya dengan elegan dia meloncat lagi lagi ke daun atau dahan yang ada sekitar kita. Dengan sisa sisa kekuatan yang telah dipakai selama 7 jam, akhirnya sampailah ke air terjun lembah kahung.
Sirnalah rasa lelah, letih , lapar dan dahaga tergantikan dengan indah dan segarnya air terjun lembah kahung. Tidak banyak orang yang sampai ke air terjun tersebut, so don’t miss it.
Waktu tempuh shelter 2 ke shelter 3 cukup lama juga, sekitar 1,15 menit , tidak terasa tapi cadangan air minum sisa separo dari yg dibawa ! Kembali istirahat sekitar 15 sampai 20 menit, dengan badan mulai terasa semakin berat walau sudah istirahat, tapi perjalanan ke shelter 4 masih menunggu. Antar shelter 3 dan shelter 5 tidak banyak berbeda dengan shelter sebelumnya, banyak pohon, tanaman merambat seperti rotan yang berduri dan jenis jenis anggrek hutan, keadaan semacam ini ditemui sampai shelter 5 dan air terjun lembah kahung, namun yang paling nggegirisi dari etape etape terahir menuju air terjun adalah pacat atau lintah (alimatak n atu-atu) yang dengan tenang tanpa perasaan menunggu mangsa yang tanpa sadar mendekatinya untuk menjadi donor darah. Jenisnya ada dua macam yg siap masuk lewat kaki tangan kita adalah lintah penghuni air yg gerakannya lembut halus tak terasa merayap di permukaan kulit, dan satunya lagi adalah jenis lintah yang bergeraknya sebat dan tepat serta meloncat dengan akurasi tinggi menancapkan moncongnya ke permukaan kulit gulu, bawah telinga maupun muka kita dengan tanpa diketahui dan tak terasa sama sekali sampai dia kenyang dengan darah yang diisapnya dan akhirnya dengan elegan dia meloncat lagi lagi ke daun atau dahan yang ada sekitar kita. Dengan sisa sisa kekuatan yang telah dipakai selama 7 jam, akhirnya sampailah ke air terjun lembah kahung.
Sirnalah rasa lelah, letih , lapar dan dahaga tergantikan dengan indah dan segarnya air terjun lembah kahung. Tidak banyak orang yang sampai ke air terjun tersebut, so don’t miss it.
Langganan:
Komentar (Atom)









